Budidaya Jamur Tiram

Eragano > Budidaya Tanaman > Budidaya Jamur Tiram

Jamur tiram atau dalam bahasa latin disebut Pleurotus sp. merupakan salah satu jamur konsumsi yang bernilai tinggi. Beberapa jenis jamur yang telah dikenal petani Indonesia seperti Jamur merang, jamur kuping, jamur shitake, jamur tiram dan jamur lingzhi mempunyai nilai ekonomi yang tinggi untuk dikembangkan karena cara budidaya relatif mudah, tidak memerlukan lahan yang luas, dan prospeknya menjanjikan. Selain prospeknya yang menjanjikan, jamur sebagai bahan pangan menjadi salah satu sumber protein seperti thiamine (vitamin B1), riboflavin (vitamin B2), niasin, biotin, dan vitamin C serta mineral. Mengingat prospek jamur yang menjanjikan, berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan para petani jika akan melakukan budidaya jamur tiram.

Syarat Tumbuh Jamur

  • Air

Kandungan air dalam substrat berkisar 60-65%, jika kondisinya kering akan menghambat pertumbuhan jamur. Selain itu, penyemprotan air dalam ruangan harus dilakukan untuk mengatur suhu dan kelembaban.

  • Suhu dan Kelembaban

Suhu inkubasi atau saat jamur tiram membentuk miselium dipertahankan antara 60-70%. Sedangkan suhu pada pembentukan tubuh buah berkisar antara 16-220C. Kelembaban udara selama masa pertumbuhan miselium dipertahankan antara 60-70%. Sedangkan kelembaban udara pada pertumbuhan tubuh buah dipertahankan antara 80-90%.

  • Cahaya

Jamur tiram sangat peka terhadap cahaya matahari secara langsung, namun pada saat pertumbuhan miselium tidak perlukan cahaya, sementara itu pada saat pertumbuhan dibutuhkan intensitas cahaya 200 lux (10%).

  • Aerasi

Komponen yang tidak kalah penting pada saat membudidayakan jamur yaitu Oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). Konsentrasi CO2 tidak boleh lebih dari 0,02% pada saat berada di kumbung jamur. Sementara itu, oksigen sangat penting untuk proses respirasi sel.

  • Tingkat keasaman (pH)

Tingkat keasaman media tanam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram putih. pH yang terlalu tinggi atau rendah akan mempengaruhi penyerapan air dan unsur hara yang berakibat pada pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. pH optimum pada media tanam berkisar 6-7.

Pembuatan Kubung

Kubung adalah bangunan tempat menyimpan bag log sebagai media tumbuhnya jamur tiram yang terbuat dari bilik bambu atau tembok permanen. Bag log adalah kantong plastik transparan berisi campuran media jamur. Rak dalam kubung disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pemeliharaan dan sirkulasi udara terjaga. Umumnya jarak antar rak ± 75 cm. Jarak didalam rak 60 cm (4-5 bag log), lebar rak 50 cm, tinggi rak maksimal 3 m, panjang disesuaikan dengan kondisi ruangan. Untuk membuat kubung diperlukan tiang kaso/bambu, rak-rak, bilik untuk dinding dan atap berupa genteng, asbes atau rumbia

Baglog

Seperti yang sudah diketahui, baglog merupakan tempat yang terbuat dari plastik yang digunakan untuk menyimpan media tanam jamur. Peralatan yang diperlukan dalam pembuatan baglog antara lain alat sterilisasi (bisa berupa drum, autoclave maupun boiler (steril bak) lengkap dengan kompor), alat pengadukan seperti ayakan, alat inokulasi (lampu bunsen, masker, jas lab, spatula, alkohol/spirtus, hand sprayer), alat angkut seperti keranjang, alat untuk penyiraman, dan alat panen.

Pembuatan Media Tanam

  • Pengayakan

Pengayakan adalah kegiatan memisahkan atau menyaring serbuk gergaji yang besar dan kecil/halus sehingga didapatkan serbuk gergaji yang halus dan seragam.

  • Pencampuran

Gerbuk gergaji yang sudah diayak dicampur dengan dedak, kapur dan gips sesuai takaran untuk mendapatkan komposisi media yang merata. Tujuannya untuk menyediakan sumber hara atau nutrisi yang cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram. Berikut ini komposisi yang dianjurkan pada saat pencampuran yaitu serbuk gergaji 100 kg sebagai media tanam, 15 kg dedak sebagai sumber makanan bagi pertumbuhan jamur, kapur 2 kg dan gips 1 kg untuk mendapatkan pH yang optimal. Bahan-bahan tersebut dicampurkan dan diaduk secara merata, ditambahkan air bersih hingga mencapai kadar air 60-65%. Bahan yang telah dicampurkan  tersebut bisa dikomposkan terlebih dahulu selama 1 hari, 3 hari, 7 hari, atau langsung dikantongi.

  • Pemeraman

Pemeraman yaitu kegitan menimbun campuran serbuk gergaji yang ditutup plastik selama 1 malam. Tujuan dari pemeraman ini untuk menguraikan senyawa-senyawa kompleks dengan bantuan mikroba agar diperoleh senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh jamur.

  • Pengisian Media ke Kantong Plastik (Bag log)

Setelah dilakukan pemeraman, campuran media tanam langsung dimasukkan ke dalam kantong plastik polipropile (PP) ukuran 18×30, 20×30, 23×35 atau sesuai dengan selera dengan kepadatan tertentu agar miselia jamur dapat tumbuh maksimal dan menghasilkan panen yang optimal. Ujung plastik disatukan dan dipasang cincin dari potongan paralon/bambu pada bagian leher plastik sehingga bungkusan akan menyerupai botol.

  • Sterilisasi

Sterilisasi adalah suatu proses yang dilakukan untuk menonaktifkan mikroba, baik bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Sterilisasi dilakukan pada suhu 700 C selama 5-8 jam, sedangkan sterilisasi autoclave membutuhkan waktu selama 4 jam pada suhu 1210 C dengan tekanan 1 atm.

  • Pendinginan

Proses pendinginan dilakukan setelah sterilisasi dilakukan agar bibit yang dimasukkan ke dalam bag log tidak mati. Pendinginan dilakukan 8-12 jam sebelum diinokulasi. Temperatur yang diinginkan adalah 30-350 C. Pendinginan dilakukan dengan cara mengeluarkan bag log yang sudah disterilisasi, kemudian didiamkan di dalam ruangan sebelum dilakukan inokulasi (pembirian bibit), kemudian pendinginan dilakukan hingga temperatur 30-350 C.

  • Inokulasi Bibit (Penanaman Bibit)

Inokulasi adalah proses pemindahan sejumlah kecil miselia jamur (bibit) dari biakan induk ke dalam media tanaman yang telah disediakan. Petugas yang akan menginokulasi bibit harus steril, mencuci tangan dengan alkohol, dan menggunakan pakaian bersih (diharakan jaslab). Spatula yang digunakan harus disterilkan dengan alkohol 70% dan dibakar, kemudian buka sumbatan kapas bag log dan buat sedikit lubang pada media tanam dengan menggunakan kayu steril yang diruncingkan. Setelah itu, ambil sedikit miselia jamur tiram (bibit jamur) satu sendok teh dan letakkan ke dalam bag log dengan sedikit ditekan. Selanjutnya media yang telah diisi miselia jamur ditutup dengan kapas kembali dan dibuat hingga 22-280 C untuk mempercepat pertumbuhan miselium.

  • Inkubasi

Inkubasi adalah menyimpan atau menempatkan media tanam yang telah diinokulasi pada kondisi ruang tertentu agar miselia jamur tumbuh. Suhu pertumbuhan pada fase ini antara 28-300 C untuk mempercepat pertumbuhan miselium. Media bag log yang telah diinokulasi dipindahkan ke dalam ruangan inkubasi. Inkubasi dilakukan hingga seluruh permukaan media tumbuh dalam bag log berwarna putih merata setelah 20-30 hari. Setelah itu, tutup kubung serapat mungkin sehingga cahaya matahari minimal, kendalikan suhu ruangan kubung mencapai 25-330C.

  • Pemindahan ke Tempat Budidaya

Bag log yang telah putih ditumbuhi miselium dipindahkan ke kumbung budidaya, bag log yang miseliumnya sudah putih dan terdapat penebalan dibuka cincin bambunya agar jamur bisa tumbuh.

  • Perawatan

Bag log harus sering dilakukan penyiraman untuk mempercepat pertumbuhan jamur. Penyiraman dilakukan dengan cara menyemprot dengan menggunakan air bersih yang ditujukan pada ruang kubung dan media tumbuh jamur. Kemudian kumbung harus diperhatikan suhu dan kelembabannya yang sesuai dengan syarat tumbuh jamur. Agar pertumbuhan jamur optimal diperlukan suhu ruangan dalam kubang 28-300 C dan kelembaban sebesar 50-60% pada saat inkubasi. Sedangkan suhu pada pembentukan tubuh buah sampai panen berkisar 22-280 C dengan kelembaban 90-95%. Apabila kelembaban kurang ataupun terlalu lembab akan menghambat pertumbuhan jamur dan menghasilkan panen yang kurang optimal.

  • Pemanenan

Ciri-ciri jamur tiram yang sudah siap panen yaitu tudung belum keriting, warna belum pudar, spora belum dilepaskan, tekstur masih kokoh dan lentur. Cara panen dilakukan dengan mencabut tanpa menyisakan bagian jamur dengan bersih dan tidak berceceran. Bag log yang telah dipanen dibersihkan dari sisa-sisa jamur yang masih menempel pada bag log supaya tidak mengundang hama dan penyakit.

  • Penanganan Pasca Panen

Jamur tiram kebanyakan dijual secara curah dalam bentuk segar sehingga mempunyai kelemahan tidak tahan lama disimpan. Setelah dipanen, jamur tiram dibersihkan dan di wadahi dengan kantong plastik ukuran 3 kg, 5 kg, dan 10 kg. Biasanya dijual dengan cara dipak ke supermarket, hotel dan restoran.

 

Referensi

Susilawati dan Budi Raharjo. 2010. Petunjuk Teknis Budidaya Jamur (Pleourotus ostreatus var florida) yang ramah lingkungan. Materi pelatihan agribisnis bagi KMPH. BPTP Sumatera Selatan.

Cahyana YA. Muchordji, M. Bakrun. 2001. Pembibitan, Pembudidayaan, Analisa Usaha Jamur Tiram. Penebar Swadaya. Jakarta.

Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. Jamur Tiram. Direktorat Jenderal Bina Jenderal Hortikultura. Jakarta. 23 hal

Basuki Rahmat. 2000. Dasar-dasar Usaha Budidaya Jamur. MAJI Publikasi. Bandung. 97 hal.

Badri. Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Kaliwung Kalimuncar. Makalah Jamur. Cisarua. Bogor. 10 hal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *