Camilan Sehat, Cookies Labu Kuning

Eragano > Uncategorized > Camilan Sehat, Cookies Labu Kuning

Siapa yang tidak suka nyemil? Rasanya orang Indonesia semuanya suka nyemil ya hihi. Eitss tapi hati-hati loh, harus bisa mengontrol kalau lagi nyemil, jangan sampai memakan cemilan yang tidak sehat sehingga menyebabkan penyakit dibadan kita. Di zaman modern seperti sekarang sudah banyak dan mudah untuk mendapatkan cemilan yang enak namun tetap sehat, biasanya dari hasil panen produk pertanian yang diolah menjadi olahan lain yang lebih menarik untuk disantap. Salah satunya dibuat cookies. Yap cookies! Cookies atau yang biasa disebut kue kering adalah jenis makanan ringan yang mudah didapat dan digemari oleh berbagai kalangan baik tua maupun muda. Rasanya yang manis dan teksturnya yang renyah membuat makanan ini mudah diterima oleh berbagai kalangan[1]. Lalu bagaimana rasanya jika labu kuning yang dijadikan bahan dasar untuk pembuatan cookies?

Labu kuning/pumpkin (Curcubita moschata Duschenes) dikenal juga dengan nama waluh (Jawa), labu parang  (Jawa Barat), labu merah dan labu manis[2]. Labu kuning merupakan salah satu bahan pangan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi dan baik bagi tubuh manusia yakni banyak mengandung beta karoten, vitamin A, serat, vitamin C, vitamin K, dan Niacin atau vitamin B3. Serta mengandung mineral seperti kalium, zat besi, fosfor, magnesium, dan kalium. Cara memilih labu kuning yang baik untuk digunakan dalam pembuatan cookies yaitu hindari memilih labu kuning yang memiliki bintik putih atau menghitam pada kulitnya karena menunjukkan labu itu sudah jautuh, hindari memilih labu berjamur, pastikan ukuran berat labu karena jika berat menunjukkan labu tersebut sudah matang.

Labu kuning yang akan dijadikan bahan dasar pada pembuatan cookies harus diolah menjadi puree terlebih dahulu. Puree adalah makanan yang dilembutkan baik itu menggunakan blender maupun diulek, agar dipastikan lembut puree juga kadang disaring. Proses pembuatan puree labu kuning yang pertama dilakukan yaitu labu kuning dicuci dan diiris menjadi ukuran yang lebih kecil agar proses pematangan lebih cepat kemudian dilanjutkan dengan pengukusan selama 15 menit, lalu digiling dan saring yang akhirnya menjadi puree. Setelah labu kuning diolah menjadi puree tahap selanjutnya yaitu pembuatan cookies. Bahan tambahan yang diperlukan untuk pembuatan cookies labu kuning selain puree yaitu tepung terigu, gula, mentega, havermut, bubuk kayu manis, chocochips, dan baking powder. Bahan-bahan tersebut dicampurkan dengan komposisi 70% puree labu kuning dan 30% tepung terigu, kemudian untuk bahan-bahan yang lain dicampurkan sesuai dengan selera masing-masing. Setelah dicampur dan diaduk, selanjutnya dilakukan pencetakan dan pemanggangan pada oven seperti pembuatan cookies pada umumnya.

Cookies labu kuning dengan formula komposisi 70% puree labu kuning dan 30% tepung terigu memberikan kualitas cookies yang dihasilkan berwarna gelap, mutu aroma yang enak, dan memiliki tekstur cookies yang lebih garing. Sementara itu dari segi rasa, cookies dengan pemberian puree labu kuning 70% memberikan rasa yang sangat enak. Hal ini pun telah dilakukan penelitian oleh Meiranty Sudarma bahwa semakin meningkat puree labu kuning mutu over all pada cookies yang dihasilkan menunjukkan over all cookies yang baik[1]. Selain itu cookies labu kuning ini mengandung kandungan gizi yang baik bagi kesehatan, diantaranya karbohidrat sebesar 50.53%, protein  5.81%, kadar air 2.35%, lemak 22.17%, dan vitamin A 86.22 mg. Oleh karenanya diharapkan agar pembuatan cookies labu kuning dapat diaplikasikan kepada masyarakat luas terutama di daerah sentra labu kuning sehingga bisa menjadi peluang usaha maupun sebagai salah satu cara diversifikasi hasil olahan panen petani untuk meningkatkan harga jual serta memberikan pilihan cemilan enak namun tetap sehat bagi konsumen.

Referensi

[1]Sudarman, Meiranty. “Pemanfaatan Labu Kuning (Cucurbita Moschata Duch) sebagai Bahan Dasar Pembuatan Cookies”. Jurnal. Pendidikan Kesehatan Keluarga. Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar.

[2]Sudarto, Y.  2000. Budidaya Waluh. Yogyakarta: Kanisius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *