Budidaya Tomat: Penanganan Pascapanen

Eragano > Budidaya Tanaman > Budidaya Tomat: Penanganan Pascapanen

Pemetikan buah tomat dapat dilakukan pada tanaman yang telah berumur 60 – 100 hari setelah tanam tergantung pada varietas dan kondisi tanamannya. Panen dilakukan 2 – 3 hari sekali sehingga dalam satu musim tanam buah tomat dapat dipetik 10 – 15 kali. Buah tomat siap dipanen jika telah matang 30%. Kriteria masak petik yang optimal dapat dilihat dari warna kulit buah, ukuran buah, bagian tepi daun tua telah mengering, tanaman dan batang tanaman menguning atau mengering. Waktu pemetikan buah tomat yang baik adalah pada pagi hari atau sore hari dan keadaan cuaca cerah. Pemetikan yang dilakukan pada siang hari dapat menyebabkan daya simpan buah tomat menjadi lebih pendek[1].

Pascapanen buah tomat tidak terlalu banyak namun harus telaten. Tomat disortasi terlebih dahulu dipisahkan dari yang busuknya sebelum akhirnya di masukan ke dalam wadah. Wadah biasanya berupa peti kayu. Pada saat memasukan tomat ke peti kayu harus dilakukan secara hati-hati agar buah tomat tidak terkena benturan satu dengan lain. Apabila buah tomat akan dilakukan penyimpanan beberapa hari maka pada saat pemetikan harus dipilih buah tomat yang matang mengkal atau tidak terlalu berwarna merah agar menghindari busuk atau terlalu matang pada saat penyimpanan.

Sortasi pada saat panen tomat.

Tindakan yang pertama kali dilakukan untuk penyortiran secara manual adalah dengan menghilangkan kelopak sisa kelopak bunga yang masih menempel pada buah menggunakan pisau. Hasil panen disortasi dengan memisahkan buah yang memiliki kualitas baik dengan buah yang rusak, cacat atau terluka. Di tempat pengumpulan, buah tomat kemudian disortir berdasarkan warna, ukuran, dan mutunya. Sisihkan buah tomat yang cacat, busuk, luka, atau mengeluarkan air agar tidak mengkontaminasi buah yang bagus (Risni, 2015). Tomat yang tidak lolos sortiran saat melakukan sortasi jangan dibuang, sebaiknya diolah. Umumnya tomat dapat diolah menjadi beberapa produk olahan seperti saos, sari tomat, yoghurth, selai, puree tomat, jelly, dan manisan tomat. Buah tomat yang busuk dapat diolah menjadi bahan pembuat MOL (Mikro Organisme Lokal). Dengan melakukan sortasi pada buah tomat yang akan dijual ke pasar, produk petani memiliki kualitas yang lebih baik dan lebih tahan lama. Apabila tidak melakukan sortasi, tomat yang busuk dan kualitas bagus dicampur maka produk cepat rusak. Dengan melakukan sortasi dapat menekan penurunan kualitas buah tomat sekitar 20%.

Grading.

Grading berdasarkan warna kulit buah tergantung jarak pasar. Kriteria buah yang dipanen disesuaikan dengan tujuan pemasaran atau untuk konsumsi. Untuk pemasaran jarak dekat, buah tomat dapat dipanen sewaktu buah tomat berwarna kekuningan. Untuk tujuan pengolahan (processing, pengalengan), konsumsi buah segar ataupun bumbu dapur, dipanen setelah masak fisiologis, ditandai dengan kulit buah yang berwarna merah. Memanen buah yang masih hijau namun ukuran buahnya telah maksimal, pilihan yang baik untuk memperpanjang umur simpannya, karena nilai gizinya tidak berbeda dan cocok untuk pengiriman jarak jauh. Melakukan grading dapat memberikan perbedaan harga yang signifikan diantara tingkatan kelas/grade. Tomat dengan Grade A dipasaran harga Rp. 9.000,-/kg, grade B harga Rp 6.000,-/kg, sedangkan grade C harga RP 4.000, -/kg

Referensi

[1]Teknologi Produksi Tomat. 2017. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

http://kalsel.litbang.pertanian.go.id/ind/images/pdf/Semnas2016/134_ni_ketut_ari.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *