Budidaya Paprika: Pemeliharaan Tanaman

Eragano > Uncategorized > Budidaya Paprika: Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman paprika sangat penting dilakukan, meskipun sudah ditanam di dalam greenhouse. Beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan saat pemeliharaan tanaman paprika di dalam greenhouse diantaranya:

  • Pemangkasan

Pada umur tanaman sekitar 1 – 3 minggu setelah tanam, tanaman paprika biasanya membentuk dua sampai tiga cabang. Pada kondisi ini dipilih dua cabang/batang utama saja yang dipelihara dalam satu tanaman, agar hasil optimal maka sisa cabang lainnya pelu dipangkas[2]. Pemangkasan juga dimaksudkan untuk memperbaiki sirkulasi udara sekitar tanaman dan membantu mengurangi serangan penyakit.

  • Sistem fertigasi

Fertigasi adalah pemberian air dan pupuk yang diberikan secara bersamaan. Terdapat dua sistem fertigasi yang digunakan petani paprika Indonesia, yaitu sistem fertigasi manual dan sistem fertigasi tetes (drip fertigation system). Pada sistem fertigasi manual, pemberian larutan pupuk dilakukan dengan cara menyalurkan larutan pupuk tersebut ke dalam polybag satu per satu secara manual menggunakan selang atau gayung. Pada sistem fertigasi tetes, pemberian larutan pupuk secara otomatis disalurkan melalui pipa-pipa dan selang Polyetilene dengan bantuan pompa air atau gaya gravitasi ke dalam tiap polybag. Di tingkat petani, frekuensi fertigasi dalam satu hari disesuaikan dengan kondisi cuaca. Pada kondisi panas dan tidak ada hujan, umumnya 4-5 kali dalam satu hari, sedangkan pada kondisi hujan dan mendung sebanyak 3-4 kali. Pada fase vegetatif ( 1-<6 MST) volume fertigasi pada tanaman paprika yaitu 600 ml/tanaman/hari. Pada fase berbunga dan mulai berbuah (6-8 MST) volume fertigasi yang diberikan adalah sebanyak 900 ml/tanaman/hari, sedangkan fase pematangan buah sampai panen adalah sebanyak 1.500 ml/tanaman/hari[1].

Dalam pengelolaan fertigasi, dua faktor yang perlu diperhatikan adalah EC dan pH larutan fertigasi. EC atau Electro Conductivity berarti penghantaran listrik di dalam suatu larutan. Nilai EC merupakan indikator kepekatan hara dalam suatu larutan dan satuan ukurannya mS/cm (atau mmho/cm). Nilai EC yang digunakan untuk tanaman paprika tergantung pada tingkat pertumbuhan paprika tersebut. Tanaman kecil yang relatif belum membutuhkan hara yang banyak, biasanya diberi EC 1 dan mulai membesar diberi EC 1,2-1,5. Bila lebih besar lagi diberi EC 1,8-2 atau lebih tinggi lagi. Untuk tanaman paprika, sering ditingkatkan menjadi 2,5-3. Aturan umum dalam pengelolaan tingkat garam terlarut di daerah perakaran adalah EC keluar tidak boleh lebih daripada EC masuk. Apabila perbedaan EC masuk dan EC keluar sudah melebihi 1, maka dilakukan pencucian media tanam dengan menggunakan larutan nutrisi EC yang lebih rendah misalnya dengan EC 1 atau 1,2.

  • Larutan nutrisi tanaman pada sistem fertigasi

Pada saat ini, nutrisi untuk tanaman paprika sudah tersedia di pasaran dalam bentuk paket yang terdiri dari dua campuran pupuk yaitu A dan B sehingga sering disebut juga AB Mix. Di pasaran, pupuk untuk hidroponik dijual dalam bentuk paket A dan B. Bobot masing-masing paket tersebut untuk tiap merk dagang berbeda-beda. Namun pada umumnya satu paket pupuk pekatan A dan B, masing-masing untuk diencerkan dalam 90 liter air, larutan ini disebut larutan pekat. Untuk mendapatkan larutan nutrisi siap siram dari masing-masing larutan pekat tersebut diambil 5 liter, selanjutnya diencerkan dengan 990 liter air[2].

  • pH larutan nutrisi

pH optimum untuk suatu larutan nutrisi agar dapat tersedia bagi tanaman adalah 5,5 sampai 6[1].

  • Pengendalian hama dan penyakit

Meskipun penanaman paprika sudah di dalam greenhouse namun masih tetap saja terdapat hama. Hama yang paling banyak ditemukan pada tanaman paprika yaitu thrips. Pengendalian hama tersebut dengan memasang perangkat lekat berwarna kuning atau biru. Jika serangan hama tetap ada dapat dilakuan dengan pengendalian mekanik, yaitu mengumpulkan serangan hama tersebut secara manual. Untuk mencegah serangan penyakit, menjaga kebersihan greenhouse merupakan salah satu faktor utama. Jika serangan hama dan penyakit tetap ada, baru menggunakan pengendalian kimia dengan diberi insektisida[1].

 

Referensi

[1]Sebayang, Lukas. 2014. Bercocok Tanam Paprika In Greenhouse. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara.

[2]T.K. Moekasan. 2003. “Budidaya Tanaman Sayuran dengan Sistem Semi Hidroponik”. Makalah yang disampaikan pada acara Temu Aplikasi Paket Teknologi Pertanian. BPTP Jakarta. 23 Desember 2003.

[3]Prihmantoro, H. & Y. H. Indriani. 2000. Paprika Hidroponik dan Non Hidroponik. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

[4]Muchjidin Rahmat., Rusli Nyak H., Nikardi Gunadi., T.K. Moekasan., Prabaningrum,. Anas D. Susila., Yogawati D. Agustini., Enung Hartati S.,  Siregar Irma., Novia Yosrini., Popy Suryani S., Adityo Utomo., Dadan Hidayat., Mimin Pakih., Pidio Leksmono., Wawan Suherman., Nono Suryono., Andi Permadi., Asep Tisna., Citra., Suplihaz., Dedin. 2006. “Standar Prosedur Operasional (SPO) Paprika di Greenhouse”. Departemen Pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *