Pupuk dan Pestisida Tanaman Jagung

Eragano > Uncategorized > Pupuk dan Pestisida Tanaman Jagung

Untuk dapat tumbuh dan menghasilkan panen yang optimal, jagung membutuhkan unsur hara yang cukup dalam proses pertumbuhannya. Pada umumnya unsur hara dari dalam tanah tidak mencukupi untuk pertumbuhan jagung, terutama kandungan Nitrogen (N), Fospor (P), dan Kalium (K). Budidaya tanaman jagung memerlukan proses pemupukan yang tepat yaitu dengan pemupukan secara berimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan ketersediaan di tanah. Pemberian pupuk organik, selain dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman, juga akan memperbaiki kemampuan tanah menyimpan air, meningkatkan kapasitas infiltrasi dan memperbaiki drainase tanah. Selain unsur hara, faktor penting dalam pertumbuhan tanaman jagung adalah penanganan yang tepat pada OPT (Organisme Penggangu Tanaman). Seperti yang kita ketahui OPT berpengaruh besar pada hasil panen tanaman. Oleh karena itu, pupuk dan pestisida pun memegang pengaruh penting pada budidaya tanaman jagung.

Keberhasilan usaha pemupukan perlu memperhatikan mengenai dosis, cara, dan waktu pemupukan sehingga usaha pemupukan tersebut menjadi efektif. Apabila lahan yang akan digunakan kurang subur, petani dapat melakukan pemupukan dasar. Pupuk kompos atau pun pupuk kandang dapat digunakan dalam proses ini. Pemupukan dasar dapat dilakukan menggunakan campuran kotoran ayam dengan kotoran kambing atau sapi. Kotoran ayam meningkatkan kandungan nitrogen sedangkan kotoran kambing atau sapi dapat meningkatkan kandungan kalium serta fosfat di dalam tanah. Pastikan perbandingan antara kotoran ayam dan kotoran sapi atau kambing adalah 1:1. Pupuk ditaburkan dalam bentuk larik, sesuai dengan baris lubang tanam. Dosis pupuk organik untuk tanaman jagung sekitar 1,5-2 ton per hektar.

Setelah pemupukan dasar, pupuk yang umum digunakan adalah pupuk tunggal yaitu Urea sebagai pupuk N, SP-36 sebagai pupuk P dan KCl sebagai pupuk K. Pemupukan dilakukan dua kali yaitu umur tanaman 10 dan 35 hari setelah tanam (hst) pada jenis tanah yang didominasi liat. Untuk tanah yang didominasi pasir pemupukan bisa dilakukan tiga kali yaitu umur 7-10 hst, 28-30 hst dan 40-45 hst  Detail pemupukan dapat dilakukan secara bertahap seperti tabel  berikut:

Tahapan

Waktu Pemupukan

Dosis Pemupukan

Tahap 1

7-10 hari setelah tanam 150kg Urea, TSP serta KCl

Tahap 2

30-35 hari setelah tanam

300 kg urea per hektar

Tahap 3 40-45 hari setelah tanam

150 kg urea per hektar

 

Pemupukan dilakukan pada lubang atau larikan kurang lebih 10 cm di samping tanaman dan ditutup dengan tanah. Bila diperlukan petani dapat melakukan pengapuran, cara menebarkan kapur sama dengan pupuk dalam bentuk larikan. Dosis pengapuran sekitar 400-500 kg per hektar. Hal ini dilakukan agar pH tanah tetap terjaga dan mengurangi resiko membusuknya akar karena tingkat keasaman tanah yang terlalu tinggi.

Selain pemupukan, proses pengendalian hama tanaman juga merupakan faktor penting dalam keberhasilan panen tanaman jagung. Dalam proses budidaya tanaman jagung sering ditemukan hama penggerek batang, kutu daun, penggerek tongkol, serta belalang. Sedangkan penyakit yang sering ditemukan pada tanaman jagung yaitu penyakit bule dan penyakit karatan. Petani perlu melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman, dengan cara melakukan proses penyemprotan dan pembasmian tanaman jagung yang sudah terinfeksi penyakit, tergantung pada jenis penyakit atau hama yang menyerang.

Nama Hama atau Penyakit

Pestisida

Hama Pengerek Batang (O. Furnacalis) Penyemprotan insektisida. Posisi hama pengerek batang biasanya tersembunyi di dalam batang, oleh karena itu, pemberian insektisida kontak tidak akan efektif. Gunakanlah insektisida translaminar berbahan aktif metomil atau insektisida sistemik berbahan aktif imadikoplorid
Hama Ulat Tongkol (H. armigera) Gunakan insektisida translaminar berbahan aktif metomil atau kontak berbahan aktif sipermetrin. Baiknya disemprotkan menggunakan pelekat pada sore hari (dibawah pukul 4 sore)
Kutu daun (R. maidis) penyemprotan insektisida demolish, curacron, cronus, bamex atau numectin.
Belalang (Oxya spp.) Pemberian biopestisida yang berbahan aktif Metarhizium Anisopliae. Biopestisida ini mampu mengendalikan 70-90% hama belalang. Perlakuan secara kimiawi bisa menggunakan pestisida regent, curacron, prevathon atau lannet.
Penyakit Bule Rutin menyemprotkan insektisida sistemik berbahan aktif imadikoplorid setiap 14 hari sekali serta insektisida kontak berbahan abamektin setiap 7-10 hari sekali.
Penyakit Karatan melakukan pemilihan varietas benih unggul, menjaga kebersihan kebun serta menggunakan aplikasi biopestisida jika bisul muncul pada permukaan daun.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *